Sudah Biasa
Hampir setiap hari saya riwa riwi dari rumah sampai kota, tepatnya dari desa kandangan ke Kota Bojonegoro, aktifitas saya sebagai wiraswasta kelas icik-icik kempyeng memang hampir mewajibkan saya untuk riwa riwi/ kesana kemari baik mulai cetak baner, cetak foto studio maupun deposit ini dan itu.
Sepeda motor WIN 100 jadul dan helm murah yang sudah bertuliskan SNI hampir tiap hari selalu setia menemani, karena lokasi tempatku, kediamanku dan Desaku dikelilingi oleh aliran sungai bengawan solo, jadi sangatlah cocok untuk kendaraan roda dua sebagai penopang aktifitas sehari hari yang sekali kali perlu menaiki perahu untuk menyebrang sebagai jalur transportasi potong kompas biar tak perlu jauh memutari beberapa desa.
Tragedi
Alkisah, pada suatu malam tepatnya hari minggu 12 Nopember 2017 setelah menjalankan sholat isya' saya bergegas untuk pergi ke kota, seperti biasa ada sedikit perlu yaitu pengambilan dan penyetoran orderan. malam ini saya ke kota tidak bersama si WIWIN tapi milih minjem motore mbok Ndewor yakni mio GT, karena kostum saya memakai sarung sehingga timbul pemikiran bawa motor matic lebih enjoy.
Saya bergegas pergi melalui tambangan ( Penyebrangan ) Mbah Dasuki, salah satu tambangan di desa saya yang tetap ramai hingga malam hari,
wussssssssss.....
Semua kegiatan yang saya perlukan dikota sudah selesai sekitar pukul 20.15 an saya sudah OTW Pulang kerumah, dalam perjalanan belum ada yang namanya rasa ngantuk atau apa, karena juga belum terlalu malam, saat sampai didepan POM Bensin/ SPBU Desa leran kalitidu
saya memutuskan untuk berhenti dulu ngisi BBM karena jarum penanda BBM udah minus, dengan asumsi biar besuk mbok Ndewor kalau berangkat sekolah ga' perlu susah susah ngisi.
Jangan lupa pakai Helm
Setelah pengisian selesai karena cuaca juga cerah saya mencopot helm yang saya pakai dengan pertimbangan jarak rumah sudah dekat, malam hari terasa udara lebih segar tanpa helm dll...
helmpun saya gantungkan disepan bawah jok.
Dengan kecepatan kalem, santai dan biasa saja saya melanjutkan perjalanan OTW kerumah...hampir sampai sekitar pasar Pungpungan tiba-tiba....
Brrrruuuakkkkk
Entah apa yang saya tabrak,
saya tidak merasakan apa apa lagi..
sampai disini saya tidah tahu apa - apa,
apa yang saya tabrak...? siapa yang menolong saya,? siapa yang menyelamatkan HP, motor dll.?
saya pun tidak tahu sama sekali.
Saya sadar setelah terbujur dengan tangan di infus, hidung terpasang selang oksigen dan rasa perih dikepala, ternyata saya sudah berada di kamar puskesmas Pungpungan Kalitidu.
Dengan penuh kecemasan saya digoyang goyang oleh mbok ndewor untuk memastikan kesadaran saya, sayapun berhasil mendengar beberapa penjelasan bahwa saya habis jatuh di sekitar utara Sekolahan Pungpungan dan seterusnya namun mata saya terasa sangat sulit untuk melek, rasa ngantuk yang sangat dan akhirnya sayapun tertidur pulas lagi.
Senin pagi, saya mulai benar-benar sadar, selang oksigen juga sudah dicopot, dan saya dipindahkan ke ruang bersama pasien lain, renungan kejadian semalam mulai saya ingat sedikit demi sedikit, memang kecelakaan dan musibah bisa saja datang kapan saja, tanpa diduga.....namun alangkah baiknya bila kita selalu mewaspadai hal tersebut misalnya dengan berjaga- jaga.
Alhasil saya merasa bersalah kenapa helm yang saya bawa tidak saya pakai, sambil sesekali memegang luka yang ada di kepala dan wajah saya....( mungkin saja kalau helmnya saya pakai kepala saya tak separah ini, terus untung saja saya tidak terlalu kencang dalam berkendara, seandainya agak kencang dikit....entah bisa dibayangkan apa ngga' )
Sayapun akhirnya di rawat dikamar sakit puskesmas Pungpungan selama 3 hari
Demi keamanan mari kita gunakan helm saat berkendara roda dua, dan selalu konsentrasi dalam berkendara demi keselamatan kita
Kepada yang sudah menolong saya
Membawa saya ke Puskesmas
Menyelamatkan saya dan barang saya
Membesuk & Mendo'akan saya
Saya sekeluarga mengucapkan beribu-ribu terima kasih dan mohon maaf sebanyak banyaknya.
Berdo'alah
Pesan juga ,
Banyak yang bilang jalur tempat saya jatuh termasuk jalur maut, karena banyak pengendara yang jatuh di jalur tersebut rata-rata meninggal dunia walaupun terkadang jatuhnya hanya terlihat sepele.
Berdo'a dalam berkendara termasuk upaya keselamatan kita, baca juga Jalur Tengkorak dijalur bojonegoro - cepu
( dari SPBU Mayangrejo KALITIDU sampai SPBU Leran KALITIDU )